Blog

5 Fakta Geologi Keberadaan Migas di Cekungan Sumatera Utara

21 Oktober 2020 Geodwipa Admin

Berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus Usaha Hulu Migas (SKK Migas), terdapat 128 cekungan di seluruh Indonesia. Dari 128 cekungan tersebut, terdapat 21 cekungan yang sudah mencapai tahap produksi dan 38 cekungan dalam tahap eksplorasi. Sementara 69 cekungan lainnya masih belum tersentuh dan sangat potensial sebagai penghasil hidrokarbon.

Dari beberapa cekungan yang sudah dinyatakan discovery dari suatu tahapan eksplorasi, sebenarnya masih terdapat banyak alternatif untuk meningkatkan angka potensi melalui suatu metode sequence stratigraphy  untuk mencari temuan-temuan baru (new play discovery) dalam cekungan-cekungan migas tersebut.

Pada kesempatan kali ini, tim riset Geodwipa akan mengungkap fakta-fakta salah satu cekungan migas di Indonesia yang sudah dalam tahap produksi, namun memiliki potensi-potensi yang cukup baik untuk dikembangkan.

Cekungan Sumatera Utara (North Sumatera Basin)

Gambar 2 : Peta Cekungan Sumatera Utara (North Sumatera Basin) Sumber : www.commons.wikimedia.org

Cekungan Sumatera Utara atau biasa disebut sebagai North Sumatera Basin merupakan cekungan migas yang berada di ujung pulau Sumatera. Terdapat beberapa wilayah kerja (WK) migas di Cekungan Sumatera Utara, seperti Wilayah Kerja Bangko, Belida, dan Gebang.

Berdasarkan konsep stratigrafi sekuen (sequence stratigraphy), cekungan ini memiliki kandungan hidrokarbon yang cukup potensial karena memiliki elemen-elemen prasyarat suatu petroleum play di sebuah cekungan sedimen. Elemen-elemen tersebut terdapat pada Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Utara yang terdapat pada gambar 3.

Gambar 3 : Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Utara (modified by Pramada, 2018)

 

Berikut 5 fakta kondisi geologi yang membuat Cekungan Sumatera Utara memiliki potensi migas yang baik untuk dilakukan eksplorasi.

  1. Adanya batuan sumber (source rock) yang Formasi Bampo (Oligocene Akhir)

Terdapat source rock berupa batuserpih Formasi Bampo  yang diendapkan di lingkungan lakustrin selama tahap syn-rift dan batuserpih Formasi Baong yang terbentuk dalam tahap post-rift dan diendapkan di lingkungan laut.  
 

  1. Adanya batuan penyimpan (Reservoir rock) yang berumur Eocene hingga Plio-Pleistocene

Batuan yang bisa menjadi penyimpan hidrokarbon (minyak atau gas) adalah batugamping-batugamping terisolasi Formasi Tampur yang berumur Eocene-Oligocene (40 hingga 35 juta tahun yang lalu. Selain itu, terdapat seri batuan diatasnya seperti batupasir Formasi Belumai yang berumur Miosen awal, maupun reservoir biogenic dangkal yang berumur Plio-Pleistocene.


Gambar 4 : Batuan-batuan penyusun Petroleum System (sumber : energyeducation.ca)

  1. Adanya jebakan struktural (structural trap) berupa hasil patahan dan lipatan

Terdapat beberapa jebakan-jebakan dalam petroleum system di North Sumatra Basin. Jebakan (trap) terbagi menjadi 2 jenis, yaitu jebakan struktural (structural trap) dan juga jebakan stratigrafi (stratigraphycal trap).

Melalui jebakan struktural, terdapat beberapa erosional truncation  yang berumur Miosen Awal dan Miosen Akhir. Truncation ini terbentuk akibat adanya perlipatan yang tererosi dan diendapkan batuan sedimen yang lebih muda (angular unconformity).


Gambar 5 : Structural Traps (sumber : geologyin.com)

 

  1. Adanya jebakan stratigrafi (stratigraphic trap) berupa Sequence Boundary

Setelah melihat dari sisi jebakan struktural,  terdapat pula jebakan stratigrafi. Jebakan stratigrafi (stratigraphic traps) terbentuk akibat adanya ketidakselarasan (unconformity) yang terbentuk akibat adanya batas antar sekuen (sequence boundary) yang dapat dilihat secara mudah melalui horizon seismik. Batas antar sekuen ini menjadi penciri naik turunnya aktivitas eustasi yang memunculkan adanya perubahan litologi penyusun Cekungan Sumatera Utara.


Gambar 5 : Stratigraphic Traps (sumber : patgeo.weebly.com)

 

  1. Adanya batuan penutup (seal/cap rock) berupa batulanau/batupasir halus
Batuan penutup (seal rock) adalah batuan yang menjadi penutup (perangkap) agar hidrokarbon (minyak dan gas bumi) tidak naik ke atas permukaan bumi. Biasanya batuan penutup ini memiliki permeabilitas yang rendah, seperti batulempung atau batulanau. Di Cekungan Sumatera Utara, terdapat beberapa batuan yang berpotensi sebagai batuan penutup (seal rock) seperti batulanau Formasi Baong, Formasi Seurula, dan Formasi Ketapang yang berumur Miocene Akhir.

 

Adanya potensi-potensi ini menjadikan petroleum play di Cekungan Sumatera Utara (North Sumatera Basin) masih cukup menarik untuk ditelurusi lebih lanjut. Tentunya dibutuhkan berbagai studi dan pengembangan untuk menemukan dan memproduksi berbagai kandungan hidrokarbon untuk mendatangkan manfaat ekonomis bagi kemajuan bangsa dan Negara.

 

Reference :

Adnan, A., Sukowitono, and Supriyannto, 1991, Jatibarang sub basin – a half graben model in the onshore of northwest Java:  Proceedings of the Twentieth Annual Convention, Indonesian Petroleum Association, v. 1, p. 279-297.

Armon, John, Harmony, Bill, Smith, Steve, Thomas, Budiyento, Himawan, Romina, Harman, Budi, Lukito, Pujiyanto, Gilmore, Lee, Syarkawi, Ichsan, 1995, Complimentary role of seismic and well data in identifying upper Talang Akar stratigraphic sequences - Widuri Field area, Asri Basin, in Caughey, Charles A., Carter, David C., Clure, John, Gresko, Mark J., Lowry, Philip, Park, Robert K., and Wonders, Antoine, eds., International Symposium on Sequence Stratigraphy in S. E. Asia: Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, p. 289-309.

Bertram, GT and Milton, NJ 1990. Reconstruction basin evolution from sedimentary thickness: the importance of palaeobathimetric control, with reference to the North Sea. Basin Research 1, pp 247-257.

Bishop, M. G., 2000, Petroleum System of Northwest Java Province, Java and Offshore Southeast Sumatra, Indonesia: Open-File Report 99-50R, U.S. Department of Interior, U.S. Geological Survey, P. 1-18.

Clements, Benjamin, Robert Hall. 2007. Cretaceous to Late Miocene Stratigraphic and Tectonic Evolution of West Java. Konvensi and Eksebisi ke-31 IPA, Jakarta. Indonesian Petroleum Association.

Dolson, J., 2016, Understanding Oil and Gas Shows and Seals in the Search for Hydrocarbon, Switzerland: Springer International Publishing Switzerland, P. 47-61.

Butterworth, P. J., Purantoro, R., and Kaldi, J. G., 1995, Sequence stratigraphic interpretations based on conventional core data:  an example from the Miocene upper Cibulakan Formation, offshore Northwest Java, in Caughey, Charles A., Carter, David C., Clure, John, Gresko, Mark J., Lowry, Philip, Park, Robert K., and Wonders, Antoine, eds., International Symposium on Sequence Stratigraphy in S. E. Asia:  Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, p. 311-325.

Otis, R.M. and Scheidermann, N., 1997, A Process for Evaluating Exploration Prospect: AAPG Bulletin, V.81, No. 7, P. 1087-1109.

Mitchum, R M, 1977. Seismic stratigraphy and global changes of sea level, part1: Glossary of terms used in seismic stratigraphy. AAPG Mem 26 pp 205-212.

Van Wagoner, dkk, 1990. Siliciclastic Sequence Stratigraphy in Well Logs, Cores and Outcrops: Concepts for High-Resolution Correlation of Time and Facies. AAPG Methods in Exploration Series.