Blog

5 Area Prospek Penemuan Migas di Cekungan Sumatera Tengah

22 Oktober 2020 Geodwipa Admin


Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan migas yang berada di wilayah Sumatera Tengah, mencakup Provinsi Riau, Sumatera Utara bagian selatan, dan sebagian provinsi Jambi. Cekungan ini dikenal sebagai salah satu penghasil sumber daya minyak dan gas bumi yang terbesar di Indonesia, karena terdapat beberapa blok migas aktif yang sampai sekarang masih beroperasi. Beberapa blok migas yang berada di Cekungan Sumatera Tengah yaitu Blok Rokan, Blok Siak, Blok Coastal Plains & Pekanbaru, dan sebagainya.

Sebagai salah satu cekungan migas yang memiliki produksi dengan jumlah yang cukup besar, cekungan ini tentunya bisa dibilang menjadi tulang punggung penerimaan Negara di sektor energi. Adanya penemuan-penemuan migas di cekungan ini tentunya didasari adanya prospek-prospek migas akibat kondisi geologi di cekungan ini.

Secara geologi, Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan busur belakang yang sebagian besar terdiri dari area berupa daratan. Pada bagian utara, Cekuingan Sumatera Tengah dipisahkan dari Cekungan Sumatera Utara oleh Tinggian Asahan, sedangkan di bagian selatannya dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan oleh Pegunungan Tigapuluh. (sumber : geology.esdm.go.id).

Pada tahun 1968, dilakukan pengeboran 270 sumur wildcat di Cekungan Sumatera Tengah, sehingga didapati adanya temuan-temuan baru minyak dan gas bumi. Sejak tahun itu, banyak operator-operator KKKS yang beroperasi di Cekungan Sumatera Tengah.

Meskipun cekungan ini sudah melalui tahap eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga produksi, namun hingga kini masih terdapat banyak cadangan hidrokarbon yang berpotensi untuk dipetakan sebagai prospek. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha-usaha untuk melihat lebih detail potensi-potensi cadangan hidrokarbon yang masih berada di bawah permukaan Cekungan Sumatera Tengah.

Berdasarkan konsep stratigrafi sekuen (sequence stratigraphy), Cekungan Sumatera Tengah (Central Sumatera Basin) dibedakan menjadi 7 sekuen sebagai berikut (gambar 1)

Gambar 1 : Modified  Central  Sumatera  Basin  lithostrtatigraphic chart  that  correlated  to sequence stratigraphy  (Modified by Pramada, 2018). 

 

 

 
  1. Sekuen 45 – 40 juta tahun yang lalu (Eocene – Oligocene Awal)
  2. Sekuen 40 - 30 juta tahun yang lalu (Oligocene Akhir)
  3. Sekuen 30 – 22 juta tahun yang lalu (Miosen Awal)
  4. Sekuen 22 -  15 juta tahun yang lalu (Miosen Awal – Tengah)
  5. Sekuen 15 – 6 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Akhir)
  6. Sekuen 6 -2 juta tahun yang lalu (Pliocene)
  7. Sekuen 2 juta tahun lalu – sekarang (Pleistocene – Recent)

Dari ketujuh sekuen stratigrafi tersebut, belum terdapat bukti-bukti penemuan dengan baik sehingga merupakan titik-titik yang potensial memiliki cadangan untuk dikembangkan menjadi sebuah petroleum play yang baru. Oleh karena itu, kali ini tim riset Geodwipa akan menguak 5 area prospek penemuan migas di Cekungan Sumatera Tengah

 

  1. Formasi Pematang pada sequence 40 – 30 Ma

Formasi Pematang yang beruur Eosen-Oligosen memiliki batuan yang cukup baik untuk menjadi batuan sumber (source rock) ditandai dengan terdapatnya batulempung dan batuserpih karbonatan. Selain berpotensi sebagai batuan sumber, Formasi Pematang juga sangat berpotensi sebagai reservoir berumur Paleogene, karena juga terdapat batupasir berukurang sedang yang memiliki hubungan menjari dengan batulempung

 

  1. Distribusi Lateral Fasies Reservoir pada sequence 30 – 22 Ma

Fasies reservoir pada Oligosen Akhir adalah Formasi Menggala. Formasi ini memiliki litologi berupa perlapisan konglomerat dan berkembang keatas yaitu batupasir kasar. Pada sequence ini memiliki cukup banyak kandungan hidrokarbon tetapi ditemukan pada tight reservoir (reservoir dengan porositas buruk). Namun jika kita mencari di daerah tepi (flexural), kita akan menemukan fasies-fasies sungai (lingkungan pengendapan fluvial) yang biasanya memiliki porositas yang lebih baik.

 

  1. Reservoir pada sequence 22 – 15 Ma

Pada sekuen ini, ditemukan beberapa Formasi yang merupakan batuan-batuan reservoir dengan porositas dan permeabilitas yang cukup baik. Formasi-formasi yang berkembang di daerah ini yaitu Formasi Bangko, Formasi Bekasap, dan Formasi Telisa. Pada umur ini, sudah ditemukan banyak hidrokarbon pada jebakan-jebakan yang bersifat struktural (structural traps). Selain melalui structural traps, adanya dinamika sedimentasi berupa fasies batupasir retrograde (step-back sand) di sekitar lapangan-lapangan migas yang sudah ditemukan dapat menjadi new play. Hal itu juga didukung oleh data-data geofisika seperti seismic attributes melalui adanya kombinasi amplitude dan frekuensi yang menunjukkan adanya distribusi litologi dan akumulasi hidrokarbon yang terjebak dan terpreservasi pada seri batupasir retrograde terisolasi akibat adanya proses transgresi.

 

  1. Batupasir terisolasi (Isolated Sandstone) yang berada di sekitar batas sekuen 15 Ma.

Adanya batas sekuen pada Miosen Tengah (15 juta tahun yang lalu) menghasilkan adanya endapan endapan hiatus (biasa disebut Duri Event). Adanya beberapa kelompok-kelompok batupasir di umur ini menjadi potensial untuk dilihat karena bisa menjadi suatu reservoir biogenic yang baik. Hal itu disebabkan karena kurangnya jalur migrasi hidrokarbon dari sumber-sumber yang lebih dibawah (thermogenik). Biogenic reservoir ini merupakan new play yang mudah untuk dilihat menggunakan seismic attribute dikombinasikan dengan amplitude dan angka frekuensi.

 

  1. Batupasir terisolasi (Isolated Sandstone) yang berada pada sekuen 15-2 Ma.

Adanya batupasir terisolasi pada umur Miosen Tegah – Pliocene membuat sekuen ini menjadi area yang cukup potential menjadi reservoir. Batuan bisa menjadi reservoir pada tepi-tepi antiklin (anticline flank) sebagai material rework akibat adanya pengangkatan sebagian (partial uplift) pada Cekungan Sumatera Tengah pada periode ini. Karena pesebarannya yang terbatas dan membentuk suatu jebakan stratigrafi (stratigraphic trap) berupa batupasir (yang diendapkan secara onlap) pada  sebuah antiklin atau terjebak akibat pemotongan bidang ketidakselarasan (unconformity) pada Pliocene Akhir.  Sistem petroleum ini dapad terlihat jelas menggunakan seismic attribute karena relative dangkal, dan system ini dapat diisi oleh gas hidrokarbon yang bersifat thermogenic maupun biogenic.

 

Adanya potensi-potensi ini menjadikan petroleum play di Cekungan Sumatera Tengah (Central Sumatra Basin) masih cukup menarik untuk ditelurusi lebih lanjut. Tentunya dibutuhkan berbagai studi dan pengembangan untuk menemukan dan memproduksi berbagai kandungan hidrokarbon untuk mendatangkan manfaat ekonomis bagi kemajuan bangsa dan Negara.